17 Mei 2011
MAYAT DALAM TANGKI AIR
Mayat seorang gadis dipercayai warganegara Indonesia ditemukan di dalam sebuah tangki air telah mencemari sumber air penduduk yang tinggal di pangsapuri HDB, Woodlands, Singapura, laporAsiaOne.
Mayat tersebut ditemukan oleh orang ramai pada pagi Isnin di tangki air Blok 686B. Menurut sumber polis, kesan darah turut terdapat di dalam tangki air sedalam dua meter itu.
Identiti mayat masih belum diketahui, namun gadis malang tersebut dipercayai berusia 20 tahun dan bekerja sebagai pembantu rumah di republik itu.
Menurut The Strait Times, seorang lelaki warganegara Bangladesh berusia 27 tahun telah ditahan berkaitan dengan kes itu. Lelaki tersebut dan mangsa dipercayai mempunyai hubungan cinta. Punca kematian masih lagi belum dikenal pasti.
P/s: Yang membuatkan saya rasa mahu termuntah apabila media mendakwa 700 orang yang tinggal di blok itu berkemungkinan minum air mayat gadis itu sebelum mayatnya dibawa keluar dari tangki air lokasi mayatnya ditemukan. Yaaahhhhhrrrkkkkk!
Abdul Kahar Muzakkar, (Pejuang Sulsel Yang Dikhianati Bangsanya Sendiri)
Dalam buku Revolusi Ketatanegaraan Indonesia, Abdul Kahar Muzakkar pernah menuliskan keterangan tentang dirinya.
“Sedjak masa ketjil saja tidak pernah ditundukkan oleh lawan-lawan saja dalam perkelahian dan sedjak dewasa saja tidak pernah mendjadi “Pak Toeroet” pendapat seseorang di luar adjaran Islam.”
Pada bukunya lain, yang berjudul Tjatatan Bathin Pedjoang Islam Revolusioner, ia kembali mempertegas siapa dirinya dengan mengeja arti namanya.
Abdul artinya hamba, Kahar artinya Tuhan yang Gagah Perkasa, sedangkan Muzakkar memiliki makna jantan. “Jadi, Abdul Kahar Muzakkar berarti: Hamba Tuhan jang bersifat djantan.”
Kira-kira begitulah watak dan kepribadian Abdul Kahar Muzakkar. Sebuah pemahaman sekaligus penyerahan diri pada nilai-nilai Islam yang ditunjukkan oleh seorang pejuang.
Kira-kira begitulah watak dan kepribadian Abdul Kahar Muzakkar. Sebuah pemahaman sekaligus penyerahan diri pada nilai-nilai Islam yang ditunjukkan oleh seorang pejuang.
Kahar Muzakkar, lahir dari keluarga Bugis berdarah panas, yang tak mengenal kata gentar dalam kamus hidupnya. Lahir 24 Maret 1921, di Kampung Lanipa, Pinrang, Sulawesi Selatan. Pada usia remaja, ia telah diminta oleh sang ayah untuk merantau menimba pengetahuan, dan
Jawa menjadi tujuannya.
Jawa menjadi tujuannya.
Di perguruan Muhammadiyah Solo, ia memintal ilmu agama. Di sini pula ia untuk pertama kali bergerak dalam gerakan Hizbul Wathon.
Kisah perjuangannya dimulai sejak Jepang memasuki Sulawesi.
Kisah perjuangannya dimulai sejak Jepang memasuki Sulawesi.
Tak seperti banyak pemuda, yang menganggap Jepang pembebas dari Timur, Kahar Muzakkar yang menolak menjadi Pak Turut tak mudah percaya. Pembelotan pertama yang ia jalani adalah menentang sikap Kerajaan Luwu yang kooperatif dengan penjajah Jepang.
Hukuman pun dijatuhkan, Kahar Muzakkar dituduh menghina kerajaan dan diganjar vonis adat ri paoppangi tana, hukuman yang memaksa ia pergi dari tanah kelahiran.
Pada periode inilah ia terjun total dalam kancah perjuangan kemerdekaan.
Ia mendirikan sebuah toko bernama Toko Luwu yang ia jadikan sebagai markas gerakannya.
Kiprah ini pula yang mengantar beberapa muda menemui Kahar Muzakkar suatu malam dan meminta ia membantu pembebasan pemuda-pemuda berjumlah 800 di Nusakambangan.
Ia mendirikan sebuah toko bernama Toko Luwu yang ia jadikan sebagai markas gerakannya.
Kiprah ini pula yang mengantar beberapa muda menemui Kahar Muzakkar suatu malam dan meminta ia membantu pembebasan pemuda-pemuda berjumlah 800 di Nusakambangan.
Pembebasan itu terjadi pada Desember 1945, dan 800 orang yang dibebaskan menjadi cikal bakal lasykar yang dibentuknya.
Lasykar yang diberinama Komandan Groep Seberang ini pula yang menjadi motor perlawanan secara militer di Sulawesi Selatan.
Lasykar yang diberinama Komandan Groep Seberang ini pula yang menjadi motor perlawanan secara militer di Sulawesi Selatan.
Tapi, dalam perjalanannya, lasykar yang dipimpinnya dipaksa bubar oleh pemerintahan Soekarno yang baru berdiri. Dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel, ia menjadi perwira tanpa pasukan yang diterlantarkan.
Setelah itu, ia masih mencoba untuk berkiprah dengan mendirikan Partai Pantjasila Indonesia.
Setelah itu, ia masih mencoba untuk berkiprah dengan mendirikan Partai Pantjasila Indonesia.
Pada tanggal 7 Agustus 1953, ia memproklamirkan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Dan proklamasi ini adalah awal dari babak baru perjuangan Abdul Kahar Muzakkar. Gerakan yang diusungnya ini mendapat simpati dari rakyat, bahkan kemudian, banyak anggota TNI yang disertir, melarikan diri masuk hutan dan bergabung bersama NII Sulawesi Selatan.
Perlawanan terhadap pemerintahan Soekarno masih terus dilakukan, dan tercatat sebagai perlawanan terpanjang dalam sejarah TNI di Sulawesi.
Sebenarnya ia menaruh harapan yang sangat besar pada Soekarno. Ia berharap Soekarno mengawal Indonesia menjadi sebuah negara berdasarkan Islam, yang akan mengantarkannya pada kebesaran.
Dalam sebuah suratnya untuk Soekarno, ia mengutarakan hal tersebut.
“Bung Karno yang saja muliakan. Alangkah bahagia dan Agungnja Bangsa Kita dibawah Pimpinan Bung Karno, jika sekarang dan sekarang djuga Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Islam, Pemimpin Besar Bangsa Indonesia, tampil ke muka menjeru Masjarakat Dunia yang sedang dipertakuti Perang Dunia III, dipertakuti kekuasaan Nuklir, kembali kedjalan damai dan perdamaian jang ditundjukkan oleh Tuhan dalam segala Adjarannja jang ada di dalam kitab sutji Al Qur’an….”
Tapi sayang, seruan Kahar Muzakkar seperti gaung di dalam sumur. Harap tak bertemu, malah petaka yang dituai. Kahar Muzakkar menjemput ajalnya di tangan tentara Divisi Siliwangi yang dikirim khusus menghabisi gerakannya.
Kematiannya semakin menambah panjang daftar para pejuang yang dikhianati oleh sejarah bangsanya sendiri
16 Mei 2011
To Wajo
Oleh : M. Farid W Makkulau
Saya pernah ke Wajo, beberapa kali. Mengenal banyak orang Wajo, bahkan pernah bekerja bersama dan dipimpin oleh Orang Wajo. Karena itu, saya cukup mengenal karakter sosial dan budaya To Wajo (Orang Wajo). Dibandingkan dengan etnis bugis lainnya, To Wajo memiliki karakteristik tersendiri yang menonjol, yaitu dalam hal pengelolaan usaha dan kepemilikan harta. Hal ini tercermin dalam ungkapan lama, “Ri werengngi pole ri Dewatae’, alebbireng koi ri Luwu, asogireng koi ri Wajo, Awaraniang koi ri Bone, Awatangeng koi ri Gowa”. (Dianugerahkan oleh Dewata, kemuliaan pada Luwu, kekayaan pada Wajo, keberanian pada Bone dan kekuatan pada Gowa).Orang Wajo sangat ekonomis dan berjiwa perantau – pengusaha (saudagar). Komitmen mereka dalam dunia usaha didasari oleh prinsip, “massiji warang-parang temma siji balu-balu”. (bersaudara dalam hal kepemilikan harta tetapi tidak dalam hal barang jualan), pola adaptasi sosio – cultural dan strategi ekonomi didasarkan pada konsep “Tallu Cappa” (ujung lidah, ujung badik dan ujung kemaluan) yang berarti kecerdasan, keberanian dan perkawinan) serta azas “silellung sirui” (saling mengejar dan menarik) sebagai modal penting dalam membangun rivalitas konstruktif dalam berusaha.
Kebiasaan merantau (sompe) dan mengadu nasib di negeri orang yang melekat pada orang Wajo sehingga seringkali kita mendapati ungkapan yang mengatakan, “padangkang to Wajo’e” (pedagang orang Wajo) atau “Sugi’to Wajo’e adangkangeng’na napakkapong”. (kaya orang Wajo karena mengutamakan perdagangan atau berdagang). Penggambaran kebiasaan merantau orang Wajo ini, yang sekaligus mengungkap konsep “maradeka” (merdeka) bagi orang Wajo, tertuang dalam Lontaraq Sukku’na Wajo (LSW), sebagai berikut :
“Maradeka To WajoE, najajiang alena maradeka, tanaemi ata’, naia tomakketanae maradeka manengngi, ade assamaturusengnami napopuang”.
(Orang Wajo merdeka, dan terlahir dalam kondisi sudah merdeka, hanya tanahlah yang menjadi abdi, setiap mereka yang hidup diatas tanah Wajo memiliki hak kemerdekaan, dan hanya adat turun temurun yang telah disepakatilah yang dijadikan pertuan).
“Naia riasengnge maradeka, laje’ tenriatteangngi, lao maniang, lao manoran, lao alau, lao orai’. Mangnganga tange’na Wajo nassu’ ajenamato mpawai massu’. Mallaja-laja tange’na Wajo nauttama, ajenamato pattamai.”
(Yang dimaksud merdeka ialah ia bebas pergi kemana ia suka, tidak dilarang ke Selatan, Utara, Timur ataupun Barat. Pintu negeri Wajo terbuka lebar, sehingga mereka bisa meninggalkan Wajo, Mereka juga bebas memasuki Wajo kembali sekehendak kaki mereka. Orang Wajo tidak boleh dipaksa, jika mereka tidak mentaati atau melaksanakan perintah yang tak ada dasar hukumnya).
Banyak sebutan yang disematkan kepada To Wajo, ada yang menyebutnya ”bugis kapitalis”, ”orang cinanya bugis”, ”to sekke”, atau ”pabbalu”, malahan sering pula saya mendengar ungkapan, ”jaga-jagai nabaluk wekkaduako to WajoE” (berjaga dan waspadalah, jangan sampai kamu dijual dua kali oleh orang Wajo). Kesemua sebutan dan ungkapan itu tentunya berdasar pada kepandaian berdagang orang Wajo, meski tidak sepenuhnya benar, sebutan dan ungkapan ini seharusnya mendapatkan pelurusan fakta yang bersumber dari akar sejarah sosial orang Wajo. Hanya sayangnya, tidak semua orang, bahkan banyak diantara kita yang tidak lagi memahami identitas kulturalnya.
Jadi, Bagaimanakah ’Manusia Wajo’ itu sekarang ??? (***)
15 Mei 2011
portaldakwah: Islam Itu Indah Trans TV M Nur Maulana 28 April 20...
portaldakwah: Islam Itu Indah Trans TV M Nur Maulana 28 April 20...: "Narasumber : Ustadz M Nur Maulana Sumber : Trans TV Tema : Dendam Acara : Islam Itu Indah Durasi : +/- 25 menit ( 3 Bagian ) Tayang : K..."
14 Mei 2011
GURUTTA:
Aja’ laloki nengka mallupaiwi gurutta
Iyamitu nasabari Iyamitu nasabari
Narilolongeng deceng nge..
Iyami nasabari nengka paddisengetta
Mancaji suloi mancaji suloi
Rilino riahera’
Ingngerrangngi ri baiccutta
Narapi’ lettu’ battoa
Masessa natemmanging ngi
Sibawa ati sabbara’
Mammuare’gi mancaji
Tau makkeguna
(guru)
GURU KITA
Jangan sekali kali kita melupakan guru
Kerana sebab merekalah
Kita mendapat kebaikan
Kerana gurulah
Kita mendapat ilmu pengetahuan
menjadi penyuluh, menjadi penyuluh
Didunia dan akhirat
Ingatlah masa kecilmu
Sehingga kita dewasa
Bersusah payah tanpa jemu
Dengan hati yang sabar
Mudah mudahan menjadi
Manusia berguna
ARTIKEL NI WAJIB DIBACA PADA MEREKA YANG BEKERJA
Pernahkah kita fikir apa tujuan kita hidup dimuka bumi Allah ini? Kalau mengikut kitab suci Al-Quran kita disuruh membuat amal ibadat secukupnya sebagai bekal untuk menuju ke alam akhirat.
Mc bukan nak cerita mengenai Alam akhirat tapi mengenai manusia sekarang yang berkelakuan amat pelik dan tidak masuk akal.
Contohnya macam ni la.
Kita susah, Allah menyuruh kita berusaha untuk memperolehi wang dan harta bagi kesenangan hidup. Tapi apa yang sering berlaku ialah, kita berdoa kepada Allah dengan tanpa sebarang usaha. Kita berdoa untuk kesenangan di dunia dan di akhirat. Tapi apakah kita berusaha kejalan itu? Atau kita sekadar bertadah tangan dan berdoa, kemudian tanpa sebarang usaha, mengharapkan harta turun dari langit?
Itulah mentaliti manusia sekarang.
Bila susah, kerjalah sungguh-sungguh, buat cara susah, rajin bekerja, ikhlas dalam pekerjaan, ikut peraturan, Insyallah pekerja yang ikhlas akan dijaga dengan baik oleh majikannya.
Ini tidak, sudahla susah, malas bekerja, sering lewat, tak mengikut peraturan, kerja pulak bagaikan kena paksa, apakah pekerja macam ni yang majikan akan jaga dengan baik? Atau tunggu masa nak sepak keluar saja?
Bila kita susah, kita tak ada wang, kenapa tak ada wang, kerana tak ada kerja, bila tak ada wang, kita pergi minta kerja, bila dapat kerja, Insyallah akan ada imbuhan yang diberi oleh syarikat, banyak atau sikit bergantung pada kita yang bekerja.
Bila minta kerja, muka macam ikan sardin, suara merayu-rayu, mengangguk-angguk semuanya boleh, kalau boleh nak memegang lutut di tukang interview tu, supaya diberikan kerja. Tapi bila dah dapat kerja, kerja suka hati, nak datang ke taknak datang ke serupa syarikat tu bapak dia yang punya. Cuti sakit berhari-hari, lewat jangan cakap la, serupa dia bos kat syarikat tu. Lepas tu bila syarikat potong gaji, atau dapat gaji sikit, kata syarikat kejam, aniaya orang susah macam dia, sebenarnya siapa yang cari susah, syarikat atau dia?
Kita sering berharap dapat gaji besar bila bekerja. Atau bila bekerja pula, kita berharap untuk kenaikkan gaji dengan cepat dan besar. Tapi tiba-tiba bila ada kenaikkan gaji, gaji kita tidak dinaikkan, kenapa?
Kerana syarikat ingat kita dah cukup makan dan pakai, yelah.. syarikat beri gaji rm1000 contoh la ye, tambahan elaun untuk kedatangan rm100. Kalau lewat (lebih daripada dua kali) atau ponteng kerja, syarikat akan potong elaun kedatangan tu. Sepatutnya kalau kita dah susah, jaga la kerja elok-elok jangan kasi elaun rm100 tu kena potong. Rm100 tu banyak, boleh buat macam-macam.
Tapi pekerja yang kata dia susah ni, setiap bulan tak pernah dapat elaun kedatangan, malah gaji pun sering ditolak kerana ponteng dan lewat. Apakah pekerja sebegini akan dapat kenaikkan gaji? Syarikat nak naikkan berapa? rm50? Tak payah la sebab rm100 pun dia tak jaga, inikah pula rm50 pasti dia akan buat tak layan. Jadi siapa yang rugi? Kita atau syarikat?
Sepatutnya bila dah susah, rajin la usaha, kerja elok-elok, jaga gaji jangan bagi kena potong. Bila ada 'overtime' itu rezeki, jangan tolak, sapu aje. Kalau pemalas bila nak senang? Kalau mak bapak kaya tu lain la cerita, tapi kalau memang kita dilahirkan biasa-biasa aje, macam mana nak senang kalau tak berusaha?
Jaga kerja elok-elok, kerja rajin-rajin. Senang atau susah, kita usaha sendiri. Minta dipermudahkan kesenangan dan tambah rezeki kepada kita, tapi diselangi dengan usaha baru betul. Ini berdoa bagai nak rak, siap nangis-nangis tapi, lepas sembahyang tidur sampai ke petang, mana duit nak datang. Apa raaa.. Bila susah, salahkan kerajaan, tak bagi itu, tak bagi ini, barang ini naik, barang itu naik.
Kerajaan hanya buat yang terbaik untuk rakyatnya, kita pula perlu berusaha memastikan keadaan kita sentiasa dalam keadaan terbaik semasa bekerja. Kerajaan cari pendapatannya, kita cari pendapatan kita.
Susah atau senang, Allah yang tentukan, tapi Allah dah janji, siapa yang usaha dia akan berjaya. Allah tak akan mungkiri janji, seperti mana kita manusia. Jadi kalau kita susah, balik tengok cermin, tenung diri sendiri kenapa kita susah, adakah disebabkan orang, atau disebabkan salah sendiri?
Mc bukan nak cerita mengenai Alam akhirat tapi mengenai manusia sekarang yang berkelakuan amat pelik dan tidak masuk akal.
Contohnya macam ni la.
Kita susah, Allah menyuruh kita berusaha untuk memperolehi wang dan harta bagi kesenangan hidup. Tapi apa yang sering berlaku ialah, kita berdoa kepada Allah dengan tanpa sebarang usaha. Kita berdoa untuk kesenangan di dunia dan di akhirat. Tapi apakah kita berusaha kejalan itu? Atau kita sekadar bertadah tangan dan berdoa, kemudian tanpa sebarang usaha, mengharapkan harta turun dari langit?
Itulah mentaliti manusia sekarang.
Bila susah, kerjalah sungguh-sungguh, buat cara susah, rajin bekerja, ikhlas dalam pekerjaan, ikut peraturan, Insyallah pekerja yang ikhlas akan dijaga dengan baik oleh majikannya.
Ini tidak, sudahla susah, malas bekerja, sering lewat, tak mengikut peraturan, kerja pulak bagaikan kena paksa, apakah pekerja macam ni yang majikan akan jaga dengan baik? Atau tunggu masa nak sepak keluar saja?
Bila kita susah, kita tak ada wang, kenapa tak ada wang, kerana tak ada kerja, bila tak ada wang, kita pergi minta kerja, bila dapat kerja, Insyallah akan ada imbuhan yang diberi oleh syarikat, banyak atau sikit bergantung pada kita yang bekerja.
Bila minta kerja, muka macam ikan sardin, suara merayu-rayu, mengangguk-angguk semuanya boleh, kalau boleh nak memegang lutut di tukang interview tu, supaya diberikan kerja. Tapi bila dah dapat kerja, kerja suka hati, nak datang ke taknak datang ke serupa syarikat tu bapak dia yang punya. Cuti sakit berhari-hari, lewat jangan cakap la, serupa dia bos kat syarikat tu. Lepas tu bila syarikat potong gaji, atau dapat gaji sikit, kata syarikat kejam, aniaya orang susah macam dia, sebenarnya siapa yang cari susah, syarikat atau dia?
Kita sering berharap dapat gaji besar bila bekerja. Atau bila bekerja pula, kita berharap untuk kenaikkan gaji dengan cepat dan besar. Tapi tiba-tiba bila ada kenaikkan gaji, gaji kita tidak dinaikkan, kenapa?
Kerana syarikat ingat kita dah cukup makan dan pakai, yelah.. syarikat beri gaji rm1000 contoh la ye, tambahan elaun untuk kedatangan rm100. Kalau lewat (lebih daripada dua kali) atau ponteng kerja, syarikat akan potong elaun kedatangan tu. Sepatutnya kalau kita dah susah, jaga la kerja elok-elok jangan kasi elaun rm100 tu kena potong. Rm100 tu banyak, boleh buat macam-macam.
Tapi pekerja yang kata dia susah ni, setiap bulan tak pernah dapat elaun kedatangan, malah gaji pun sering ditolak kerana ponteng dan lewat. Apakah pekerja sebegini akan dapat kenaikkan gaji? Syarikat nak naikkan berapa? rm50? Tak payah la sebab rm100 pun dia tak jaga, inikah pula rm50 pasti dia akan buat tak layan. Jadi siapa yang rugi? Kita atau syarikat?
Sepatutnya bila dah susah, rajin la usaha, kerja elok-elok, jaga gaji jangan bagi kena potong. Bila ada 'overtime' itu rezeki, jangan tolak, sapu aje. Kalau pemalas bila nak senang? Kalau mak bapak kaya tu lain la cerita, tapi kalau memang kita dilahirkan biasa-biasa aje, macam mana nak senang kalau tak berusaha?
Jaga kerja elok-elok, kerja rajin-rajin. Senang atau susah, kita usaha sendiri. Minta dipermudahkan kesenangan dan tambah rezeki kepada kita, tapi diselangi dengan usaha baru betul. Ini berdoa bagai nak rak, siap nangis-nangis tapi, lepas sembahyang tidur sampai ke petang, mana duit nak datang. Apa raaa.. Bila susah, salahkan kerajaan, tak bagi itu, tak bagi ini, barang ini naik, barang itu naik.
Kerajaan hanya buat yang terbaik untuk rakyatnya, kita pula perlu berusaha memastikan keadaan kita sentiasa dalam keadaan terbaik semasa bekerja. Kerajaan cari pendapatannya, kita cari pendapatan kita.
Susah atau senang, Allah yang tentukan, tapi Allah dah janji, siapa yang usaha dia akan berjaya. Allah tak akan mungkiri janji, seperti mana kita manusia. Jadi kalau kita susah, balik tengok cermin, tenung diri sendiri kenapa kita susah, adakah disebabkan orang, atau disebabkan salah sendiri?
NOH tak HUJAN: SOAL-SIASAT OLEH POLIS SELEPAS DITANGKAP 9/9
NOH tak HUJAN: SOAL-SIASAT OLEH POLIS SELEPAS DITANGKAP 9/9: "9. SOAL-SIASAT OLEH POLIS SELEPAS DITANGKAP 9.1 Kenal pasti Pegawai Polis yang menyoal siasat anda - Ambil perhatian nama/pangkat Pegawai..."
Langgan:
Catatan (Atom)

